Wisata ‘Religi’ di Jakarta

Saya sekeluarga berangkat dari Bandung selepas waktu subuh tiba. Setelah mengantar adik saya ke rumah temannya di Depok, saya dan kedua orang tua melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sepuluh tahun tinggal di Depok (2001-2012), saya termasuk jaaaarang banget jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang belum pernah dan pingin banget saya kunjungi yaitu Masjid Istiqlal. Karena itulah, kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengunjungi masjid terbesar se-Asia Tenggara itu.

Jakarta hari minggu memang seringnya sepi ya? Depok-Istiqlal via Lenteng Agung lancar dan cukup ditempuh sekitar satu jam saja. Kami sampai di Istiqlal sekitar pukul 11.30. Dalam rangka bulan Ramadhan, sebagian area parkir masjid dipakai untuk tempat bazaar. Sedih rasanya melihat keadaan area parkir yang kotor karena sampah berserakan.

Masjid-Istiqlal
Pintu masuk (Sumber: uangteman.com, karena saya lupa gak foto di sini)

Terdapat tujuh pintu gerbang masuk ke dalam Masjid Istiqlal. Masing-masing pintu itu diberi nama berdasarkan Asmaul Husna: Al Fattah, As Salam, Ar Rozzaq, Al Quddus, Al Malik, Al Ghaffar, dan Ar Rahman. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, serta tujuh hari dalam seminggu.

Masjid ini beneran besar banget saudara-saudara. Mau ke toilet dan tempat wudhu aja jauh banget rasanya. Pilar-pilar di ruang utama juga besar-besar banget ukurannya. Saking besarnya, ruangan jadi terasa gelap karena jarak dari lampu di langit-langit dengan lantai jauh banget.

IMG20170611123617.jpg
Kubah bagian dalam dan pilar-pilarnya
IMG20170611123734.jpg
Dari lantai dua

Selepas solat zuhur berjamaah ada ceramah dan papa saya menyarankan untuk dengerin dulu, baru pergi. Saya sih milih untuk muter-muter masjid dan naik ke lantai dua. Hehe #janganditiru.

IMG20170611122734

IMG20170611123138

Untuk penjelasan lebih lengkap tentang sejarah dan seluk beluk lain Masjid Istiqlal bisa dibaca di situs resminya: istiqlal.id

Setelah dari Istiqlal kami lanjut ke tujuan wisata ‘religi’ selanjutnya: The Halal Guys! Yes. You read it right. It’s the almighty Halal Guys from New York City. Baru-baru ini Halal Guys membuka cabang di Senayan City. Jadi yang pingin nyobain gak perlu jauh-jauh ke Amerika dulu. Yey!

Sebenarnya saya juga belum lama tau tentang Halal Guys. Yang memperkenalkan saya dengan makanan ini tak lain dan tak bukan ialah Gita Savitri Devi, vlogger berjilbab yang kuliah di Jerman itu. Videonya waktu liburan di New York akhir tahun lalu sukses bikin saya pingin nyobain dan mencari-cari di mana saya bisa beli.

Awalnya saya menemukan bahwa Halal Guys gak punya cabang di Indonesia. Cabangnya di luar USA pun cuma ada di Kanada. Saya pun pasrah aja. Sampai suatu hari saya lihat sebuah foto di explore instagram yang mengumumkan bahwa The Halal Guys bakal buka cabang di Jakarta. Wow!

Sepertinya The Halal Guys ini memang sedang mencoba untuk go international. Terakhir kali saya cek webnya, sekarang mereka sudah buka cabang juga di Manila dan Seoul.

Saya pun gak menyia-nyiakan saat ada kesempatan ke Jakarta dalam waktu yang cukup luang. Karena kami cuma punya rencana ke Istiqlal dan gak mungkin pergi ke tempat yang butuh banyak tenaga (karena lagi puasa, wkwk), saya mengusulkan untuk ke Senayan City aja beli Halal Guys buat buka puasa. Hehe!

IMG20170611140604
Antrian

Kalau gak salah di videonya Gita bilang seporsi chicken, gyro, atau combo platter dihargai US$7. Di Jakarta sendiri, Halal Guys menyediakan dua jenis porsi platter: regular dan New York size yang dihargai IDR 55000 dan IDR 80000. Setiap porsi platter berisi nasi, ayam/gyro (beef), salad, dan roti pita serta dilengkapi dengan white sauce (semacam mayonaise) dan hot sauce (saus pedas). Selain platter tersedia juga sandwich (IDR 45000), falafel (IDR 15000), dan minuman.

IMG20170611140140

IMG20170611140142

.IMG20170611140328

Antriannya waktu saya datang lumayan ramai apalagi untuk siang hari di bulan Ramadhan. Tapi karena pelayanannya cepat, antrian pun bergerak dengan cepat. Sistemnya di sini kita akan menyebutkan pesanan di konter paling depan, lalu pesanan akan dibuat di depan kita: isi platter tadi dimasukkan satu persatu ke piring, dan berakhir di kasir tepat kita membayar dan mengambil pesanan.

IMG20170611151821

Sekarang, bagaimana dengan rasanya?

IMG20170611151552
Combo platter regular size

 

Gak tau nasi jenis apa yang dipakai, tapi menurut saya sih nasinya agak keras dan kering. *Hiks, jadi kebayang nasi di Hokben atau Sukigao yang pulen nan wangi.* Mungkin sejenis sama nasi yang dipakai untuk bikin nasi kebuli gitu kali, ya? Tapi nasi kebuli yang pernah saya makan pun rasanya gak se’kering’ ini. Kalau di makan bareng daging, salad, dan sausnya, rasanya kira-kira mirip kebab yang biasa dijual di sini. Saya menyesal karena saya bilang “sedeng aja” waktu ditanya pedes atau nggak. Karena mas-masnya mengartikan itu dengan hot sauce sebanyak satu garis saja, alhasil gak berasa pedes sama sekali. Saran sih kalau beli minta sausnya yang banyak aja untuk mengimbangi nasinya yang lumayan kering.

IMG20170611151624
Looks so yummyyyyy

Tapi karena pada dasarnya saya doyan sama rasanya, saya gak kecewa-kecewa banget sih. Jadi saya cukup puas sama makanan ini dan bakal beli lagi kalau ada kesempatan!

 

Sekian. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

 

 

Jungleland (22 Juli 2016)

Waktu itu masih dalam suasana lebaran, saat ada yang melempar ide ke grup WhatsApp untuk jalan-jalan lagi. Beberapa tujuan sempat disebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk membuat khawatir semua rencana itu hanya berakhir jadi wacana. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tujuan akhirnya dikerucutkan pada dua pilihan: Jakarta Fair dan Jungleland. Ternyata jadwal buka Jakarta Fair tumpang tindih sama libur lebaran 2016 sehingga tujuan ini dirasa gak memungkinkan dan kita memutuskan untuk pergi ke Jungleland. Harga tiket Jungleland waktu itu sekitar 150 ribu untuk Senin hingga Kamis dan sekitar 200 ribu untuk Sabtu dan Minggu. Kita pun memastikan untuk pergi hari Jumat karena harga tiketnya cuma 100 ribu. Tanggal 22 Juli pun dipilih dan transportasi mulai didiskusikan.

IMG20160722173609

Berhubung saat itu belum ada yang bisa bawa mobil, awalnya kita berniat untuk naik angkutan umum. Dari hasil penelusuran lewat Google, kita harus ganti angkutan 2 sampai 3 kali dari Bandung untuk sampai ke Mall Bellanova. Dari Mall Bellanova, ada shuttle yang bisa mengantar kita ke Jungleland yang lokasinya memang di dalam kompleks perumahan. Sayangnya gak ada informasi yang meyakinkan tentang shuttle ini. Beberapa sumber menyebutkan jadwal shuttle ini gak pasti dan bahkan belum tentu ada. Pilihan lain untuk mencapai lokasi dari Mall Bellanova ini pun hanya ada ojek dan taksi yang gak bisa dipastikan berapa ongkosnya. Dengan mempertimbangkan jumlah ongkos, tenaga, dan jam berapa kita bakal pulang akhirnya kita semua setuju untuk nyewa mobil+supir saja.

2

Untuk hari Jumat, Jungleland buka jam 10:00-18:00. Kita pun janjian untuk berangkat jam 06:00 dari kampus dengan pak supir mobil sewaan. Janjiannya sih jam 6, namun karena satu dan lain hal kita baru berangkat jam 7 kurang sambil berdoa semoga bisa sampai sebelum jam 10. Syukurlah jalanan lancar dan kita gak pakai nyasar, tentunya dengan Google Maps yang selalu dipantau, sehingga kita bisa sampai tepat waktu bahkan sebelum loket tiket dibuka. Jungleland ini lokasinya ada di tengah kawasan perumahan Sentul Nirwana. Kompleks ini mungkin masih sodaraan sama Bogor Nirwana Residence, kompleks di mana The Jungle Waterpark berada. Jungleland dan The Jungle Waterpark sendiri juga kayanya memang sodaraan deh. Suasana jungle dari kedua tempat ini dibangun dari pohon-pohon tinggi yang berjajar serta gambar dan patung binatang-binatang penghuni hutan yang ada di sepanjang area pintu masuk sampai ke arah area permainan.

3

Suasana taman bermain seluas 35 hektar ini lumayan ramai waktu kita sampai. Ramai aja, gak ramai banget. Beli tiketnya pun gak perlu antre lama. Mungkin karena masa liburan sekolah udah selesai. Sebelum masuk, tiket kita dibolongin dulu sama petugasnya.

4

Wahana-wahana di Jungleland dibagi dalam lima zona: Downtown, Carnivalia, Explora, Tropicalia, dan Mysteria. Downtown area letaknya sebelum loket tiket masuk tadi, meliputi bola Jungleland(?), air mancur, food court, toko suvenir, dan area pertunjukkan. Setelah melewati gerbang cek tiket, kita langsung masuk ke zona Carnivalia. Di zona ini ada wahana-wahana yang menantang adrenalin seperti Air Race, Discovery, Disk’ O, dan Mini Drop serta wahana-wahana yang ramah untuk anak-anak seperti Flight Academy, Daytona, Ferris Wheel, Bumper Car, Mini Swinger, dan Caroussel. Selain itu, wahana Haunted Hose juga ada di zona ini. Untuk zona Tropicalia, beberapa wahana yang ada yaitu Waterflume, Harvest Time, Wave Swinger, Ship Adventure, dan Texan Train. Wahana menantang adrenalin lainnya seperti Hydrolift, Mega Drop dan Boat Baster ada di zona Mysteria. Zona Explora sendiri ternyata masih dalam pembangunan karena di peta pun tertulis coming soon. Sebenarnya, rada gak jelas juga sih pembagian zona ini berdasarkan apa. Karena di dalam satu zona ternyata masih bergabung antara wahana untuk orang dewasa, anak kecil, maupun semua umur. Desain dan suasana yang terasa pun gak berbeda jauh antara zona satu dengan zona lainnya.

Selagi matahari sedang tertutup awan dan antrian belum panjang, kita mencoba Ferris Wheel sebagai wahana pertama. Dari wahana setinggi 45 meter ini kita bisa menikmati pemandangan wilayah Sentul dan Gunung Pancar sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


Selanjutnya kita mulai mencoba wahana yang menantang. Disk’ O terpilih jadi wahana kedua hari itu. Wahana ini berbentuk lingkaran dengan tempat duduk di sepanjang tepi lingkaran. Kita duduk menghadap ke luar lingkaran dengan pegangan tangan di depan serta pengaman yang menjepit badan kita dari belakang. Lingkaran ini kemudian diputar dan diayun pada lintasan melengkung yang mengingatkan pada wahana Kora-Kora di Dufan. Rasanya tuh… Abis dilempar terus tiba-tiba langsung ditarik lagi ke pusat sentripetal. Bayangin aja, naik Kora-Kora tapi perahunya muter.

PicsArt_06-20-02.11.17

PicsArt_06-20-02.06.40

Di sebelah Disk’O ada wahana Air Race, kalau di Dufan ini mirip Kicir-Kicir kali ya, namun dengan bentuk tempat duduk berupa pesawat. Waktu saya ke Dufan Lima tahun yang lalu sih sama sekali gak ada keinginan naik Kicir-Kicir. Tapi waktu lihat wahana ini, kok kayaknya ukurannya lebih kecil dan gak seseram itu. Seketika quote-quote macam “doing thing that scare you will make you happier” bermunculan di pikiran. Akhirnya saya memutuskan untuk naik!

Karena wahana ini tempat duduknya berdua-berdua, Intan jadi punya alasan untuk gak naik. Nah, di wahana ini akhirnya saya tau gimana rasanya kaki di kepala kepala di kaki. Waktu posisi kepala lagi di bawah, aneh banget rasanya pantat gak nempel sama kursi… Setelah naik ini lah kita-kita pada mabok. Ada yang mual, pucet, pusing, dan jalan sempoyongan. Intan yang ga ikut naik malah ketawa ngeliat kita sambil pamer kalau dia dapat kaos dari orang promosi.

Setelah menenangkan diri kita lanjut jalan ke arah Haunted House. Sempet ragu-ragu dan males masuk karena kita kira antriannya panjang. Tapi akhirnya masuk juga dan, yaudah sih gitu aja. Gak tau ada setan apa aja karena saya gak buka mata sedikitpun. Keluar dari Haunted House, kita memutuskan untuk makan dulu di KFC. Oiya sebelumnya kita sempat masuk ke Dino World yang isinya…. ya gitu deh. Wahana ini cocok buat anak-anak yang lagi tergila-gila sama dinosaurus (kayak Minguk waktu itu).

IMG20160722154242
“jangan lebay”

tumblr_inline_nk6p2nXdqC1t73j6x

Masih ingin santai-santai, setelah makan kita pilih wahana Texan Train yang membawa kita berkeliling Jungleland. Lumayan untuk lihat-lihat keseluruhan Jungleland dan mempertimbangkan akan naik wahana apa selanjutnya. Sayangnya kemudian hujan mulai turun rintik-rintik.


Berhubung hujannya cuma rintik-rintik kita pikir sayang kalau kita gak main apa-apa karena waktu itu juga sudah cukup siang. Hal ini akhirnya kita siasati dengan cari permainan yang basah-basahan. Kita pun sempat naik Waterflume, Hydrolift dan Boat Blaster yang seru banget.

Waterflume ini biasa aja, persis sama seperti Niagara-gara di Dufan. Kalau Hydrolift, ini semacam arung jeram yang lintasannya gak cuma belok-belok tapi juga ada bagian terjunnya. Seru banget sih, lebih seru dari arung jeram di Dufan. Boat Blaster juga gak kalah seru. Di wahana ini kita bener-bener basah karena di sini kita main tembak-tembakan air melawan orang-orang yang ada di kapal lain. Kekurangannya satu, tangan bakal pegel muter pistol airnya dan kalau udah ga kuat, pasrah aja deh ditembakkin air.

Sebelum dan sesudah dari Boat Blaster seingatku hujan turun cukup deras. Sudah hampir jam 5 sore saat akhirnya hujan mereda. Kita pun cari toilet dan musola untuk ganti baju dan solat. Kalau gak salah, musolanya ada di dekat wahana Hydrolift. Toiletnya cukup bersih dan besar. Kita bisa nyaman bersih-bersih badan dan ganti baju karena kebetulan gak ada orang lain di toilet waktu itu.

Karena semua udah capek dan Jungleland juga sudah mau tutup, kita pun gak naik wahana lagi dan cuma foto-foto. Lumayan banyak spot bagus untuk foto di Jungleland ini, favoritku di jembatan gerbang area Tropicalia yang latar belakangnya berupa sungai serta Ferrish Wheel.

Sekitar jam 6 kurang kita pulang, gak lupa jajan cilok dulu di depan Jungleland. Di jalan pulang, semua sudah mengidamkan Hokben untuk makan malam. Ternyata perjalanan gak selancar tadi pagi. Karena hari Jumat, wajarlah kalau jalan tol arah ke Bandung macet. Tapi akhirnya kita sampai ke rest area yang ada Hokbennya. Setelah makan, langsung lanjut ke Bandung tetap dengan google maps yang selalu on. Lupa deh, sampe Bandung jam berapa, gak lebih dari jam 11 sih kalau gak salah. Alhamdulillah semua sampai rumah dengan selamat dan bahagia.

 

Sekian. Sampai ketemu di cerita selanjutnya!

 

 

P.S.: Mohon maaf untuk post yang telat banget ini.
P.P.S.: Karena sudah 11 bulan berlalu, mungkin ada beberapa cerita yang gak tertulis, urutan cerita yang salah, dan informasi yang sudah tidak relevan.

 

 

Life update: Sedikit tentang 2016

Halo guysssss (guys siape maksud lo?)

Tahun 2016 menjadi tahun di mana saya banyak jalan-jalan bareng temen kuliah. Ada beberapa yang harusnya sih bisa jadi cerita di blog ini. Tapi tulisannya gak akan publish dalam waktu dekat ini. Mau cerita yang lain dulu, nih. Setahun kemarin saya ngerjain TA (literally ngerjain sesuatu di lab, bukan nulis doang). Alhamdulillah setelah kurang lebih tiga semester, TA saya beres juga. Udah kayak anak S2 aja kan, TA sampe 3 semester. Tapi tetep aja, yang beres baru kerjaan di lab doang. Nulis skripsinya belom. Krik. Krik. Kalau mau wisuda 1 April 2017, saya harus nyelesaiin skripsi saya minggu depan. Saya juga harus belajar banyak buat sidang akhir Februari.

Tahun 2016 saya juga dapet banyak pelajaran hidup. Banyak hal baru yang saya alami dan kadang saya bingung harus gimana menghadapinya. Banyak quotes tentang kehidupan yang akhirnya saya terapkan sendiri. Intinya tahun 2016 ini saya kayak learning by doing gitu. Dari dulu saya suka banget sama kutipan-kutipan tentang kehidupan. Bahkan pernah saya bikin post-nya disini. Kutipan-kutipan itu secara gak langsung memberi semangat dan harapan buat hidup saya. Tapi tahun 2016 ini saya baru sadar kalau selama ini saya menerima kutipan-kutipan itu mentah-mentah. Saya iya-iya aja, sok-sok setuju sama kutipan itu. Sampai akhirnya saya menghadapi banyak hal yang menyadarkan bahwa apa yang tercantum dalam kutipan itu sebenarnya susah banget kalau dipraktekin. Makanya hal-hal itu bisa sampai jadi kutipan, karena untuk menjalaninya memang gak gampang.

Dan yak! Sungguh tulisan yang random. Jadi sedikit aja ya. Doakan perjuangan saya mengejar gelar sarjana berjalan lancar. Saya doain buat semuanya yang juga sedang menjelang ujian kelulusan apapun itu diberi kekuatan dan kelancaran. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!